Adaptasi Teknologi dan Sirkulasi Kekuasaan
Abstract
Dalam buku yang berjudul Power/Knowledge, Foucault (1980) berargumen bahwa kekuasaan tidak “berfungsi dalam bentuk rantai – ia bersirkulasi. [Kekuasaan] tidak pernah dimonopoli oleh satu pusat. Ia disebarkan dan dipraktikkan melalui organisasi serupa jaringan” (hal. 98). Dalam beberapa subjek penelitian yang mencakup struktur yang tua dan besar, tentu hal ini patut dipertanyakan. Bagaimana pula kekuasaan, misalnya, berpindah tempat dalam situasi-situasi yang koersif? Jelaslah mereka yang menguasai sumber daya, akan menguasai pula cara pikir massa. Namun dalam kondisi di mana akumulasi pengetahuan bisa dilakukan hampir tanpa biaya, misalnya
saja dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi, tentu pernyataan Foucault (1980) ada benarnya. Jika produksi pengetahuan tidak hanya dapat dilakukan oleh pemilik sumber daya, menjadi mungkin pula kekuasaan menjadi juga dimiliki oleh para produsen pengetahuan – setidaknya untuk sementara. Kemunculan berbagai media alternatif
yang dimungkinkan dengan kemampuan menggunakan teknologi media adalah salah satu
dari banyak contoh yang mendukungnya. Meskipun idak semua artikel dalam edisi ini
mengkaji media berbasis TIK, namun terdapat benang merah di antara argumen tiap penulis. Tampak dari temuan-temuan dalam edisi Jurnal Komunikasi Indonesia kali ini bahwa kelompok-kelompok di luar dan di dalam ‘struktur kekuasaan’ atau ‘budaya dominan’ (lihat Raymond Williams, 2005), memproduksi dan menyebarkan gagasan
melalui ‘adaptasi teknologi’. Yang dimaksud dengan ‘adaptasi teknologi’ di sini adalah penggunaan media yang berada di dalam jangkauan pengguna, untuk tujuan-tujuan penyampaian pesan tertentu demi menegosiasikan posisinya di masyarakat.
***
Dalam Jurnal Komunikasi Indonesia edisi ini, seperti edisi-edisi sebelumnya, terdapat enam artikel dan satu tinjauan buku. Dalam artikel pertama mengenai penggunaan internet dalam gerakan salafisme di Indonesia, penulis berargumen bahwa teknologi media memberikan peluang baru bagi komunitas agama sesuai kepentingannya. Penulis
berargumen bahwa kelompok agama yang konservatif pun perlu beradaptasi dengan modernisasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara ideologis komunitas salafi adalah ultra ortodoks, berdasarkan penggunaan medianya, mereka tergolong
modern. Artikel kedua mengangkat fiksi erotis penggemar K-pop di Indonesia melalui blog. Praktis tanpa biaya, para penggemar menciptakan narasinya sendiri yang turut membentuk interaksi dan konsumsi budaya melalui penggunaan blog. Hal tersebut dilihat oleh penulis sebagai wadah ekspresi perempuan muda yang terpendam, dengan meminjam
materi budaya populer. Artikel ketiga mempelajari buku-buku pengembangan
diri yang berkaitan dengan gerakan tarbiah. Penulis berargumen bahwa buku pengembangan diri islami adalah bentuk ‘pengaturan’, dengan memgangkat wacara-wacana dan menanamkan nilai-nilai tertentu. Tujuannya adalah sebagai bagian
dari dakwah melalui tulisan yang ditargetkan kepada kaum muda muslim di Indonesia.
Penulis artikel keempat mengkaji lirik lagu Jogja Hiphop Foundation (JHF), serta bagaimana ia mempertahankan kaidah-kaidah dasar kehidupan masyarakat Jawa. Dengan mengadaptasi genre musik rap yang lazim diasosiasikan dengan konotasi
vulgar, JHF menafsirkan modernitas ke dalam tradisi Jawa serta mengkritisi penggerusan nilai nilai keraton. Tulisan kelima menjabarkan dengan rinci perkembangan industri film independen di Indonesia. Tampak bahwa dengan adanya teknologi baru,
serta bergantinya pemegang kekuasaan, definisi ‘film independen’ juga bertransformasi. Penulis menelusuri sejak awal lahirnya film independen sebagai sebuah gerakan di luar film arus utama, hingga kini yang diwarnai pula dengan penyelenggaraan
festival film. Artikel keenam mengangkat penggunaan media sosial secara luas di Indonesia juga menciptakan tantangan baru bagi perusahaan untuk memasarkan produknya, sehingga interaktivitas para pengguna/konsumen melalui Facebook belum bisa
dioptimalkan dalam pemasaran digital tiga brand perangkat elektronik laptop.
Tinjauan buku pada edisi kali ini adalah terhadap buku yang berjudul Performance, Popular
Culture, and Piety in Muslim Southeast Asia yang disunting oleh Timothy P. Daniels (2013). Buku ini mengangkat kasus-kasus ‘media’ di dua negara dengan populasi muslim mayoritas – yakni Indonesia dan Malaysia. Sang peninjau mempertanyakan pemilihan beberapa topik yang diangkat di tiap bab, sehingga sulit mencari benang merah antar kajian tiap penulis. Dengan membahas aspek sosial- budaya, buku ini menyajikan kesalehan dalam
berbagai kasus seni pertunjukan (seperti tari dan teater) serta budaya pop (seperti film, sinetron, dan musik). Temuan dalam tiap artikel serta tinjauan buku, dengan berfokus pada jenis teknologi media dan tema-tema yang berbeda, mengarah kepada satu
argumen dasar: bahwa ‘budaya dominan’ tidak memiliki kuasa penuh atas produksi gagasan. Dan, sulit dibantah, hal ini menjadi semakin mungkin dilakukan dengan teknologi media yang terus bertransformasi bersama dengan para penggunanya
Ilya Revianti Sunarwinadi
Ketua Penyunting
Full Text:
PDFRefbacks
- » Google Scholar
Halaman ini dikelola oleh:
Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI
ISSN: 2301-9816
E-ISSN: 2406-9221
